Shakespeare, The Sims, dan Politik

Winda A. Pratiwi
5 min readNov 12, 2020

Ini adalah tulisan Medium pertama saya dalam Bahasa Indonesia yang akan menceritakan tentang tiga topik yang (terlihat) tidak berkesinambungan, tetapi ternyata hubungannya erat sekali dengan cara saya memandang kehidupan bermasyarakat maupun berpolitik sedari kecil.

Pada tahun 2004, Electronic Arts merilis The Sims 2 — penerus dari The Sims. Ketika itu, umur saya masih enam tahun. Sebagai murid sekolah Katolik yang memiliki cukup banyak beban studi ketika kecil, saya sangat senang dengan permainan komputer, dan untungnya, orangtua saya cukup suportif akan hobi saya yang kerap memakan waktu 12 jam sampai dengan seharian. The Sims 2, menurut saya, masih menjadi seri terbaik dari seluruh waralaba permainan The Sims.

Kabupaten (?) Veronaville di The Sims 2. Courtesy: The Sims Wiki

Di The Sims 2, terdapat tiga neighborhood yang dapat kita mainkan. Semuanya sangat bagus dan dipikirkan dengan matang oleh pengembangnya, namun Winda kecil entah kenapa tertarik dengan daerah bernama Veronaville. Veronaville sendiri terinspirasi oleh kota Verona, kota fiksi yang menjadi latar Romeo dan Juliet. Veronaville juga dibangun identik dengan tata kota di Eropa pada umumnya, turut menampilkan rumah Tudor yang terinspirasi dari rumah Shakespeare di Stratford-upon-Avon, Inggris, dan di bagian kanan kota, arsitektur rumah condong ke gaya Mediterania di Verona. Pembagian ini jelas sesuai dengan pembagian antara dua keluarga utama di Veronaville, yaitu keluarga Capp dan Monty. Nama keluarga Capp dan Monty terinspirasi dari Capulet dan Montague-nya Romeo dan Juliet.

Mbak Juliet Capp dan Mas Romeo Monty. Kasihan, ya.

Arsitektur kota yang terbagi oleh jembatan besar di tengah juga mewakili perbedaan dalam budaya kedua keluarga. Keluarga Capp (Capulet) tinggal di sisi kiri kota berarsitektur Inggris yang lebih kaya secara materiil dan lebih menonjol di timur, sedangkan keluarga Monty (Montague) tinggal di sisi Italia yang kurang menonjol dan lebih ndeso. Terdapat juga keluarga lainnya, yaitu Summerdream, yang juga terinspirasi oleh karya Shakespeare yang lainnya, yaitu A Midsummer Night’s Dream. Beberapa nama-nama di keluarga tersebut juga identik dengan lakon teater aslinya, dengan Oberon dan Titania Summerdream sebagai Bapak dan Ibu di keluarga tersebut.

……and that’s exactly how I started to dig into Shakespeare as a kid. Through a game. Winda kecil hanyalah anak yang tinggal di daerah industri terbesar di Indonesia, dikelilingi oleh perjuangan kelas pekerja. Sampai sekarang, tidak terpikirkan bahwa saya senang menganalisis karya-karya Londo yang bahkan tidak pernah saya saksikan secara langsung karena di sini adanya layar tancap dan wayang, but here I am.

Ketika Anda mendengar kata Shakespeare, pasti Anda familiar dengan sebutan drama, teater, dan lain sebagainya, tetapi saya keheranan ketika orang-orang jarang mengasosiasikan Shakespeare dengan politik yang sudah jelas tertera di hampir semua lakon teaternya. Pentingnya politik bagi Shakespeare terbukti dalam pilihan subjek untuk dramanya. Sepuluh drama sejarahnya berkonsentrasi pada masalah politik. Berhadapan dengan tokoh seperti raja-raja Inggris dan intrik perpolitikannya, lakon Shakespeare seringkali mengangkat serangkaian masalah politik , dari narasi perang dan perdamaian, peran agama dalam politik, pangeran yang sah maupun tidak sah, yang mengangkat topik seperti apa yang diperlukan untuk menjadi raja (pemimpin) yang baik, dan juga bagaimana seorang raja (pemimpin) dapat dilengserkan.

Seperti yang kita ketahui, sebagian besar lakon Shakespeare berkaitan dengan raja, ratu, perang, dan masalah kenegaraan lainnya. Walaupun biasanya Beliau menulis tentang raja dan ratu yang jatuh cinta atau malah saling bunuh-membunuh, Beliau juga membahas tentang keadilan, antisemitisme, konstruksi gender, dan apakah suatu negara harus berperang memperebutkan bola tenis (re: Henry V).

Ada empat lakon Shakespare yang mengambil tema politik yang sama di zaman Roma kuno yang membahas wacana antara republik dan monarki. Hamlet, King Lear, dan Macbeth melanjutkan eksplorasi lakon Shakespeare yang kerap membahas tentang baik dan buruknya sistemmonarki dan masalah-masalah seperti suksesi kekuasaan, serta ancaman perampasan dan tirani. Othello, yang sebagian berlatar di Venesia, menunjukkan minat Shakespeare pada republik modern. Bahkan Romeo dan Juliet, yang selama ini berfokus kepada kisah cinta, berfokus pada dua keluarga bangsawan pada zaman Renaissans di Verona.

Bahkan ketika beberapa komedi Shakespeare mengangkat masalah politik, konteks ‘politik’ di sini cenderung lebih rumit dengan adanya latar cerita yang lebih gelap dan banyak intrik — tentunya sangat berbeda dengan pendekatan Machiavelli, misalnya. The Merchant of Venice dan Measure for Measure membahas masalah politik yang serius, termasuk ketegangan antara agama dan politik, dan terdapat transisi komedi ke tragedi sebelum akhirnya terdapat akhir cerita yang relatif ‘stagnan’.

Shakespeare telah memahami konsep rezim (Yunani: politeia) seperti yang dikembangkan oleh Plato dan Aristoteles, yang menganut sebuah gagasan tentang berbagai bentuk organisasi politik mendorong berbagai bentuk perkembangan manusia. Tidak setiap kemungkinan manusia tersedia secara setara di bawah setiap rezim; sulit untuk menjadi orang suci Kristen di Roma yang masih menganut budaya Pagan (dan seperti di Hamlet, sama sulitnya menjadi pahlawan di Eropa yang kental dengan budaya Kristiani). Monarki pasti akan menghalangi bentuk aktivitas politik tertentu (terutama yang menantang monarki), sementara republik juga memiliki kecenderungan yang sama. Shakespeare umumnya dipuji karena variasi tipe manusia yang ia gambarkan dalam dramanya. Salah satu kunci keberhasilan ini adalah keragaman rezim yang dicakup Shakespeare dalam dramanya — dari republik pagan kuno hingga monarki Kristen modern.

A Midsummer Night’s Dream merupakan salah satu drama Shakespeare yang juga santai namun mengandung pesan satir yang halus. Oberon dan Titania (a-ha, The Sims 2), merupakan pasangan raja dan ratu peri yang sedang mengalami perebutan hak asuh, dan sebagai akibat dari pertikaian kecil mereka, kondisi lingkungan menjadi berantakan. Salju turun di musim panas, bunga bermekaran di musim dingin, terjadi krisis iklim yang disebabkan oleh sepasang pemimpin yang tidak dapat membedakan urusan pemerintahan dengan urusan personal. Puck, peri akar rumput (peri biasa) merupakan tokoh penting yang dapat meminimalisir kerusakan lingkungan.

Bu Titania dan Pak Oberon Summerdream di The Sims 2.

Walaupun politik merupakan inti dari lakon Shakespeare, bukan berarti kita sedang membicarakan tentang politik partisan yang sempit. Politik sendiri merupakan subjek kebebasan intelektual bagi Shakespeare. Seperti semua pemikir politik besar, Shakespeare memperluas pandangan filosofisnya dengan memperluas cakrawala politiknya. Dari membahas berbagai macam rezim, adat istiadat, rupa-rupa perilaku manusia, dan kepercayaan yang telah berlaku di komunitas yang berbeda dari waktu ke waktu, memungkinkan Shakespeare untuk mengeksplorasi cara hidup ‘asing’ pada zaman Renaissans Inggris yang dikemas dalam konteksnya sendiri.

--

--